Svasti,
Raja pelindung bandar Tambralingga yang mendukung Phraparitti Prahyokshan yang melindungi ajaran Buddha.Bagindalah yang keturunannya datang dari wangsa suci, Padmawangsa.Rupa parasnya bagus bagaikan hari Rabu tahun Reka (Ayam), wajahnya umpama bulan purnama memerintah sambil memegang sastera juga memayungi dharma serta menanggung bebanan menjadi kepala kepada kerabat diraja. Bagindalah yang memegang gelaran Sri Dharmaraja...
Di kawasan runtuhan kota purba di Wat Hua Wiang di Chaiya,daerah Suratthani di Thailand,telah ditemui batu bersurat di pintu kota purba berketinggian 1.30 meter,dan ini tidak termasuk bahagian yang masih tertanam di dalam tanah,dengan lebar batu ini mencapai 45 cm dan berketebalan 13 cm.
Di dalam batu bersurat ini tercatat nama seorang raja purba dan dinasti yang diwakilinya, Padmawangsa (dinasti Teratai). Dipahat dalam bahasa Sanskrit dan bertulisan Kawi Kuno, disebutkan di dalamnya bahawa raja itu mempunyai hubungan dengan dua lagi dinasti purba, Sailendra dan Sriwijaya.
Berdasarkan ini, seorang pengkaji sejarah Thailand,Chand Chirayu Rajani berusaha untuk meyakinkan peminat-peminat sejarah Sriwijaya, sebuah empayar legenda thalassocracy di Asia Tenggara juga menarik perhatian pakar-pakar sejarah dunia bahawa ibukota empayar terkenal itu sebenarnya berada di selatan Thailand.
Riwayat-riwayat Thai Kuno mengatakan terdapat seorang raja yang amat alim dalam perihal ajaran Buddha, dan dari raja ini...orang-orang Thai purba mempelajari agama Buddha...
Blog ini semata-mata tidak boleh dijadikan sebagai sumber maklumat untuk rujukan anda dalam melaksanakan sesebuah penulisan ilmiah. Rundingan daripada pihak yang lebih ahli serta rujukan daripada sumber-sumber primer dan sekunder yang berkredibiliti adalah amat perlu.
Showing posts with label Prasasti Melayu. Show all posts
Showing posts with label Prasasti Melayu. Show all posts
Tuesday, 4 October 2011
Prasasti Mulawarman
Prasasti Mulawarman, atau disebut juga Prasasti Kutai, adalah sebuah prasasti yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Kutai. Terdapat tujuh buah yupa yang memuat prasasti, namun baru 4 yang berhasil dibaca dan diterjemahkan. Prasasti ini menggunakan huruf Pallawa Pra-Nagari dan dalam bahasa Sansekerta, yang diperkirakan dari bentuk dan jenisnya berasal dari sekitar 400 Masehi. Prasasti ini ditulis dalam bentuk puisi anustub.[1]
Isi
Transkripsi prasasti pada yupa-yupa tersebut adalah sebagai berikut:
Prasasti Kutai I[2] srimatah sri-narendrasya, kundungasya mahatmanah, putro svavarmmo vikhyatah, vansakartta yathansuman, tasya putra mahatmanah, trayas traya ivagnayah, tesan trayanam pravarah, tapo-bala-damanvitah, sri mulawarmma rajendro, yastva bahusuvarnnakam, tasya yajnasya yupo 'yam, dvijendrais samprakalpitah. | Prasasti Kutai II[3] srimad-viraja-kirtteh rajnah sri-mulavarmmanah punyam srnvantu vipramukhyah ye canye sadhavah purusah bahudana-jivadanam sakalpavrksam sabhumidanan ca tesam punyagananam yupo 'yan stahapito vipraih | Prasasti Kutai III[3] sri-mulavarmmano rajnah yad dattan tilla-parvvatam sadipa-malaya sarddham yupo 'yam likhitas tayoh | Prasasti Kutai IV[4] srimato nrpamukhyasya rajnah sri-mulawarmmanah danam punyatame ksetre yad dattam vaprakesvare dvijatibhyo' gnikalpebhyah. vinsatir ggosahasrikam tansya punyasya yupo 'yam krto viprair ihagataih. |
Terjemahan bebas
Terjemahan teks yupa-yupa tersebut adalah sebagai berikut:[1]
Prasasti Kutai I Sang Maharaja Kundunga, yang amat mulia, mempunyai putra yang mashur, Sang Aswawarman namanya, yang seperti Sang Ansuman (dewa Matahari) menumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Aswawarman mempunyai putra tiga, seperti api (yang suci) tiga. Yang terkemuka dari ketiga putra itu ialah Sang Mulawarman, raja yang berperadaban baik, kuat dan kuasa. Sang Mulawarman telah mengadakan kenduri (selamatan yang dinamakan) emas amat banyak. Buat peringatan kenduri (selamatan) itulah tugu batu ini didirikan oleh para brahmana. | Prasasti Kutai II Dengarkanlah oleh kamu sekalian, Brahmana yang terkemuka, dan sekalian orang baik lain-lainnya, tentang kebaikan budi Sang Mulawarman, raja besar yang sangat mulia. Kebaikan budi ini ialah berwujud sedekah banyak sekali, seolah-olah sedekah kehidupan atau semata-mata pohon kalpa (yang memberi segala keinginan), dengan sedekah tanah (yang dihadiahkan). Berhubung dengan kebaikan itulah maka tugu ini didirikan oleh para Brahmana (buat peringatan). | Prasasti Kutai III Tugu ini ditulis buat (peringatan) dua (perkara) yang telah disedekahkan oleh Sang Raja Mulawarman, yakni segunung minyak (kental), dengan lampu serta malai bunga. | Prasasti Kutai IV Sang Mulawarman, raja yang mulia dan terkemuka, telah memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para brahmana yang seperti api, (bertempat) di dalam tanah yang suci (bernama) Waprakeswara. Buat (peringatan) akan kebaikan budi sang raja itu, tugu ini telah dibuat oleh para Brahmana yang datang ke tempat ini. |
Referensi
- ^ a b Sumantri, Yeni Kurniawati. Rangkuman Materi Perkuliahan: Sejarah Indonesia Kuno. Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Pendidikan Indonesia.
- ^ R.M. Poerbatjaraka, Riwayat Indonesia, I, 1952, hal. 9.
- ^ a b R. M. Poerbatjaraka, Ibid., hal. 10.
- ^ R. M. Poerbatjaraka, Ibid., hal. 11.
Isinya menceritakan Raja Mulawarman yang memberikan sumbangan kepada para kaum Brahmana berupa sapi yang banyak. Mulawarman disebutkan sebagai cucu dari Kudungga, dan anak dari Aswawarman. Prasasti ini merupakan bukti peninggalan tertua dari kerajaan yang beragama Hindu di Indonesia. Nama Kutai umumnya digunakan sebagai nama kerajaan ini meskipun tidak disebutkan dalam prasasti, sebab prasasti ditemukan di Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu Sungai Mahakam.
Monday, 3 October 2011
Prasasti Telaga Batu
Prasasti Telaga Batu ditemukan di daerah Sabokingking, Kel. 3 Ilir, Kec. Ilir Timur II, Kota Palembang, Sumatra Selatan, sekitar tahun 1950-an. Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional Indonesia dengan No. D.155. Di sekitar prasasti ini pada tahun-tahun sebelumnya ditemukan lebih dari 30 buah prasasti Siddhayatra. Bersama-sama dengan Prasasti Telaga Batu, prasasti-prasasti tersebut kini disimpan di Museum Nasional, Jakarta.
Prasasti Telaga Batu dipahatkan pada sebuah batu andesit yang sudah dibentuk sebagaimana layaknya sebuah prasasti dengan ukuran tinggi 118 cm dan lebar 148 cm. Di bagian atasnya terdapat hiasan tujuh ekor kepala naga, dan di bahagian bawah tengah terdapat semacam cerat (pancuran) tempat mengalirkan air pembasuh. Ditulis dalam aksara Pallawa dengan menggunakan bahasa Melayu Kuno.
Penafsiran prasasti
Tulisan yang dipahatkan pada prasasti cukup panjang, namun secara garis besar isinya tentang kutukan terhadap siapa saja yang melakukan kejahatan di kedatuan Sriwijaya dan tidak taat kepada perintah dātu. Casparis berpendapat bahzwa orang-orang yang disebut pada prasasti ini merupakan orang-orang yang berkategori berbahaya dan berpotensi untuk melawan kepada kedatuan Sriwijaya sehingga perlu disumpah.
Tulisan yang dipahatkan pada prasasti cukup panjang, namun secara garis besar isinya tentang kutukan terhadap siapa saja yang melakukan kejahatan di kedatuan Sriwijaya dan tidak taat kepada perintah dātu. Casparis berpendapat bahzwa orang-orang yang disebut pada prasasti ini merupakan orang-orang yang berkategori berbahaya dan berpotensi untuk melawan kepada kedatuan Sriwijaya sehingga perlu disumpah.
Disebutkan orang-orang tersebut mulai dari putra raja (rājaputra), menteri (kumārāmātya), bupati (bhūpati), panglima (senāpati), Pembesar/tokoh lokal terkemuka (nāyaka), bangsawan (pratyaya), raja bawahan (hāji pratyaya), hakim (dandanayaka), ketua pekerja/buruh (tuhā an vatak = vuruh), pengawas pekerja rendah (addhyāksi nījavarna), ahli senjata (vāsīkarana), tentara (cātabhata), pejabat pengelola (adhikarana), karyawan toko (kāyastha), pengrajin (sthāpaka), kapten kapal (puhāvam), peniaga (vaniyāga), pelayan raja (marsī hāji), dan budak raja (hulun hāji).
Prasasti ini salah satu prasasti kutukan yang paling lengkap memuat nama-nama pejabat pemerintahan. Beberapa sejarahwan menganggap dengan keberadaan prasasti ini, diduga pusat Sriwijaya itu berada di Palembang dan pejabat-pejabat yang disumpah itu tentunya bertempat-tinggal di ibukota kerajaan.[2] Soekmono berpendapat berdasarkan prasasti ini tidak mungkin Sriwijaya berada di Palembang karena adanya keterangan ancaman kutukan kepada siapa yang durhaka kepada kedatuan,[3] dan mengajukan usulan Minanga seperti yang disebut pada prasasti Kedukan Bukit yang diasumsikan berada di sekitar Candi Muara Takus sebagai ibukota Sriwijaya.[4]
Prasasti ini salah satu prasasti kutukan yang paling lengkap memuat nama-nama pejabat pemerintahan. Beberapa sejarahwan menganggap dengan keberadaan prasasti ini, diduga pusat Sriwijaya itu berada di Palembang dan pejabat-pejabat yang disumpah itu tentunya bertempat-tinggal di ibukota kerajaan.[2] Soekmono berpendapat berdasarkan prasasti ini tidak mungkin Sriwijaya berada di Palembang karena adanya keterangan ancaman kutukan kepada siapa yang durhaka kepada kedatuan,[3] dan mengajukan usulan Minanga seperti yang disebut pada prasasti Kedukan Bukit yang diasumsikan berada di sekitar Candi Muara Takus sebagai ibukota Sriwijaya.[4]
Rujukan
^ Casparis, J.G., (1956), Prasasti Indonesia II: Selected Inscriptions from the 7th to the 9th Century A.D., Dinas Purbakala Republik Indonesia, Bandung: Masa Baru.
^ Irfan, N.K.S., (1983), Kerajaan Sriwijaya: pusat pemerintahan dan perkembangannya, Girimukti Pasaka
^ Madjelis Ilmu Pengetahuan Indonesia, (1958), Laporan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional Pertama, Volume 5.
^ Soekmono, R., (2002), Pengantar sejarah kebudayaan Indonesia 2, Kanisius, ISBN 979-413-290-X.
^ Casparis, J.G., (1956), Prasasti Indonesia II: Selected Inscriptions from the 7th to the 9th Century A.D., Dinas Purbakala Republik Indonesia, Bandung: Masa Baru.
^ Irfan, N.K.S., (1983), Kerajaan Sriwijaya: pusat pemerintahan dan perkembangannya, Girimukti Pasaka
^ Madjelis Ilmu Pengetahuan Indonesia, (1958), Laporan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional Pertama, Volume 5.
^ Soekmono, R., (2002), Pengantar sejarah kebudayaan Indonesia 2, Kanisius, ISBN 979-413-290-X.
Prasasti Karang Brahi
Prasasti Karang Brahi adalah sebuah prasasti dari zaman kerajaan Sriwijaya yang ditemukan pada tahun 1904 oleh Kontrolir L.M. Berkhout di daerah Karang Berahi, di tepian sungai Merangin, daerah Jambi. Prasasti ini tidak berangka tahun. Yang teridentifikasi hanya aksaranya Pallawa dan bahasanya Melayu Kuno. Isinya tentang kutukan bagi orang yang tidak tunduk atau setia kepada raja dan orang-orang yang berbuat jahat.
Prasasti Bukateja
Prasasti Bukateja merupakan salah satu dokumen berbentuk lempeng emas. Prasasti ditemukan sebagai koleksi pribadi dari keluarga Tan Oen Dji, yang tinggal di Kecamatan Bukateja,Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Tempat penemuan aslinya tidak diketahui. Prasasti ini tidak berangka tahun tetapi diduga dari bentuk tulisan kira-kira berasal dari antara tahun 821-840 M.
Prasasti ini bersifat Siwais.Tulisan pada prasasti ini berbahasa Melayu Kuno dengan aksara Kawi dan sangat singkat:
Prasasti ini bersifat Siwais.Tulisan pada prasasti ini berbahasa Melayu Kuno dengan aksara Kawi dan sangat singkat:
ini padehanda Hawang Payangan dan dianalisis oleh J.G. de Casparis (1956). Olehnya, "padehanda" diartikan sebagai "sisa-sisa tubuh".
Prasasti Kota Kapur
Prasasti Kota Kapur adalah temuan arkeologi prasasti Sriwijaya yang ditemukan di pesisir barat Pulau Bangka. Prasasti ini dinamakan menurut tempat penemuannya iaitu sebuah dusun kecil yang bernama "Kota kapur". Tulisan pada prasasti ini ditulis dalam aksara Pallawa dan menggunakan bahasa Melayu Kuno, serta merupakan salah satu dokumen tertulis tertua berbahasa Melayu. Prasasti ini ditemukan oleh J.K. van der Meulen pada bulan Desember 1892.
Prasasti ini pertama kali dianalisis oleh H. Kern, seorang ahli epigrafi bangsa Belanda yang bekerja pada Bataviaasch Genootschap di Batavia. Pada mulanya ia menganggap "Śrīwijaya" adalah nama seorang raja. George Coedes lah yang kemudian berjasa mengungkapkan bahwa Śrīwijaya adalah nama sebuah kerajaan besar di Sumatra pada abad ke-7 Masehi, iaitu kerajaan yang kuat dan pernah menguasai bahagian barat Nusantara, Semenanjung Tanah Malayu, dan Thailand bahagian selatan.
Isi prasasti
Prasasti Kota Kapur adalah salah satu dari lima buah batu prasasti kutukan yang dibuat oleh Dapunta Hiyaŋ, seorang penguasa dari Kadātuan Śrīwijaya. Inilah isi lengkap dari Prasasti Kota Kapur, seperti yang ditranskripsikan dan ditejemahkan oleh Coedes:
Prasasti ini pertama kali dianalisis oleh H. Kern, seorang ahli epigrafi bangsa Belanda yang bekerja pada Bataviaasch Genootschap di Batavia. Pada mulanya ia menganggap "Śrīwijaya" adalah nama seorang raja. George Coedes lah yang kemudian berjasa mengungkapkan bahwa Śrīwijaya adalah nama sebuah kerajaan besar di Sumatra pada abad ke-7 Masehi, iaitu kerajaan yang kuat dan pernah menguasai bahagian barat Nusantara, Semenanjung Tanah Malayu, dan Thailand bahagian selatan.
Isi prasasti
Prasasti Kota Kapur adalah salah satu dari lima buah batu prasasti kutukan yang dibuat oleh Dapunta Hiyaŋ, seorang penguasa dari Kadātuan Śrīwijaya. Inilah isi lengkap dari Prasasti Kota Kapur, seperti yang ditranskripsikan dan ditejemahkan oleh Coedes:
Naskah Asli
Siddha titam hamba nvari i avai kandra kayet ni paihumpaan namuha ulu lavan tandrun luah makamatai tandrun luah vinunu paihumpaan hakairum muah kayet ni humpa unai tunai.
Umentern bhakti ni ulun haraki. unai tunai kita savanakta devata mahardika sannidhana. manraksa yan kadatuan çrivijaya. kita tuvi tandrun luah vanakta devata mulana yan parsumpahan.
paravis. kadadhi yan uran didalanna bhami paravis hanun. Samavuddhi lavan drohaka, manujari drohaka, niujari drohaka talu din drohaka. tida ya.
Marppadah tida ya bhakti. tida yan tatvarjjawa diy aku. dngan diiyan nigalarku sanyasa datua. dhava vuathana uran inan nivunuh ya sumpah nisuruh tapik ya mulan parvvanda datu çriwi-
jaya. Talu muah ya dnan gotrasantanana. tathapi savankna yan vuatna jahat. makalanit uran. makasuit. makagila. mantra gada visaprayoga. udu tuwa. tamval.
Sarambat. kasihan. vacikarana.ityevamadi. janan muah ya sidha. pulan ka iya muah yan dosana vuatna jahat inan tathapi nivunuh yan sumpah talu muah ya mulam yam manu-
ruh marjjahati. yan vatu nipratishta ini tuvi nivunuh ya sumpah talu, muah ya mulan. saranbhana uran drohaka tida bhakti tatvarjjava diy aku, dhava vua-
tna niwunuh ya sumpah ini gran kadachi iya bhakti tatvjjava diy aku. dngan di yam nigalarku sanyasa dattua. çanti muah kavuatana. dngan gotrasantanana.
Samrddha svasthi niroga nirupadrava subhiksa muah vanuana paravis chakravarsatita 608 din pratipada çuklapaksa vulan vaichaka. tatkalana
Yan manman sumpah ini. nipahat di velana yan vala çrivijaya kalivat manapik yan bhumi java tida bhakti ka çrivijaya.
Siddha titam hamba nvari i avai kandra kayet ni paihumpaan namuha ulu lavan tandrun luah makamatai tandrun luah vinunu paihumpaan hakairum muah kayet ni humpa unai tunai.
Umentern bhakti ni ulun haraki. unai tunai kita savanakta devata mahardika sannidhana. manraksa yan kadatuan çrivijaya. kita tuvi tandrun luah vanakta devata mulana yan parsumpahan.
paravis. kadadhi yan uran didalanna bhami paravis hanun. Samavuddhi lavan drohaka, manujari drohaka, niujari drohaka talu din drohaka. tida ya.
Marppadah tida ya bhakti. tida yan tatvarjjawa diy aku. dngan diiyan nigalarku sanyasa datua. dhava vuathana uran inan nivunuh ya sumpah nisuruh tapik ya mulan parvvanda datu çriwi-
jaya. Talu muah ya dnan gotrasantanana. tathapi savankna yan vuatna jahat. makalanit uran. makasuit. makagila. mantra gada visaprayoga. udu tuwa. tamval.
Sarambat. kasihan. vacikarana.ityevamadi. janan muah ya sidha. pulan ka iya muah yan dosana vuatna jahat inan tathapi nivunuh yan sumpah talu muah ya mulam yam manu-
ruh marjjahati. yan vatu nipratishta ini tuvi nivunuh ya sumpah talu, muah ya mulan. saranbhana uran drohaka tida bhakti tatvarjjava diy aku, dhava vua-
tna niwunuh ya sumpah ini gran kadachi iya bhakti tatvjjava diy aku. dngan di yam nigalarku sanyasa dattua. çanti muah kavuatana. dngan gotrasantanana.
Samrddha svasthi niroga nirupadrava subhiksa muah vanuana paravis chakravarsatita 608 din pratipada çuklapaksa vulan vaichaka. tatkalana
Yan manman sumpah ini. nipahat di velana yan vala çrivijaya kalivat manapik yan bhumi java tida bhakti ka çrivijaya.
Terjemahan
Keberhasilan ! (disertai mantra persumpahan yang tidak dipahami artinya)
Wahai sekalian dewata yang berkuasa, yang sedang berkumpul dan melindungi Kadātuan Śrīwijaya ini; kamu sekalian dewa-dewa yang mengawali permulaan segala sumpah !
Bilamana di pedalaman semua daerah yang berada di bawah Kadātuan ini akan ada orang yang memberontak yang bersekongkol dengan para pemberontak, yang berbicara dengan pemberontak, yang mendengarkan kata pemberontak;
yang mengenal pemberontak, yang tidak berperilaku hormat, yang tidak takluk, yang tidak setia pada saya dan pada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu; biar orang-orang yang menjadi pelaku perbuatan-perbuatan tersebut mati kena kutuk biar sebuah ekspedisi untuk melawannya seketika di bawah pimpinan datu atau beberapa datu Śrīwijaya, dan biar mereka
dihukum bersama marga dan keluarganya. Lagipula biar semua perbuatannya yang jahat; seperti mengganggu :ketenteraman jiwa orang, membuat orang sakit, membuat orang gila, menggunakan mantra, racun, memakai racun upas dan tuba, ganja, saramwat, pekasih, memaksakan kehendaknya pada orang lain dan sebagainya, semoga perbuatan-perbuatan itu tidak berhasil dan menghantam mereka yang bersalah melakukan perbuatan jahat itu; biar pula mereka mati kena kutuk. Tambahan pula biar mereka yang menghasut orang
supaya merusak, yang merusak batu yang diletakkan di tempat ini, mati juga kena kutuk; dan dihukum langsung. Biar para pembunuh, pemberontak, mereka yang tak berbakti, yang tak setia pada saya, biar pelaku perbuatan tersebut mati kena kutuk. Akan tetapi jika orang takluk setia kepada saya dan kepada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu, maka moga-moga usaha mereka diberkahi, juga marga dan keluarganya dengan keberhasilan, kesentosaan, kesehatan, kebebasan dari bencana, kelimpahan segalanya untuk semua negeri mereka ! Tahun Śaka 608, hari pertama paruh terang bulan Waisakha (28 Februari 686 Masehi),
Keberhasilan ! (disertai mantra persumpahan yang tidak dipahami artinya)
Wahai sekalian dewata yang berkuasa, yang sedang berkumpul dan melindungi Kadātuan Śrīwijaya ini; kamu sekalian dewa-dewa yang mengawali permulaan segala sumpah !
Bilamana di pedalaman semua daerah yang berada di bawah Kadātuan ini akan ada orang yang memberontak yang bersekongkol dengan para pemberontak, yang berbicara dengan pemberontak, yang mendengarkan kata pemberontak;
yang mengenal pemberontak, yang tidak berperilaku hormat, yang tidak takluk, yang tidak setia pada saya dan pada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu; biar orang-orang yang menjadi pelaku perbuatan-perbuatan tersebut mati kena kutuk biar sebuah ekspedisi untuk melawannya seketika di bawah pimpinan datu atau beberapa datu Śrīwijaya, dan biar mereka
dihukum bersama marga dan keluarganya. Lagipula biar semua perbuatannya yang jahat; seperti mengganggu :ketenteraman jiwa orang, membuat orang sakit, membuat orang gila, menggunakan mantra, racun, memakai racun upas dan tuba, ganja, saramwat, pekasih, memaksakan kehendaknya pada orang lain dan sebagainya, semoga perbuatan-perbuatan itu tidak berhasil dan menghantam mereka yang bersalah melakukan perbuatan jahat itu; biar pula mereka mati kena kutuk. Tambahan pula biar mereka yang menghasut orang
supaya merusak, yang merusak batu yang diletakkan di tempat ini, mati juga kena kutuk; dan dihukum langsung. Biar para pembunuh, pemberontak, mereka yang tak berbakti, yang tak setia pada saya, biar pelaku perbuatan tersebut mati kena kutuk. Akan tetapi jika orang takluk setia kepada saya dan kepada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu, maka moga-moga usaha mereka diberkahi, juga marga dan keluarganya dengan keberhasilan, kesentosaan, kesehatan, kebebasan dari bencana, kelimpahan segalanya untuk semua negeri mereka ! Tahun Śaka 608, hari pertama paruh terang bulan Waisakha (28 Februari 686 Masehi),
Pada saat itulah kutukan ini diucapkan; pemahatannya berlangsung ketika bala tentara Śrīwijaya baru berangkat untuk menyerang bhūmi jāwa yang tidak takluk kepada Śrīwijaya.
Prasasti ini dipahatkan pada sebuah batu yang berbentuk tugu bersegi-segi dengan ukuran tinggi 177 cm, lebar 32 cm pada bagian dasar, dan 19 cm pada bagian puncak.
Prasasti ini dipahatkan pada sebuah batu yang berbentuk tugu bersegi-segi dengan ukuran tinggi 177 cm, lebar 32 cm pada bagian dasar, dan 19 cm pada bagian puncak.
Arti penting
Prasasti Kota Kapur adalah prasasti Śrīwijaya yang pertama kali ditemukan, jauh sebelum Prasasti Kedukan Bukit yang baru ditemukan pada 29 November 1920, dan Prasasti Talang Tuo yang ditemukan beberapa hari sebelumnya iaitu pada 17 November 1920.
Prasasti Kota Kapur ini, beserta penemuan-penemuan arkeologi lainnya di daerah tersebut, merupakan peninggalan masa Sriwijaya dan membuka wawasan baru tentang masa-masa Hindu-Budha di masa itu. Prasasti ini juga membuka gambaran tentang corak masyarakat yang hidup pada abad ke-6 dan abad ke-7 dengan latar belakang agama Hindu dan Buddha.
Prasasti Kota Kapur adalah prasasti Śrīwijaya yang pertama kali ditemukan, jauh sebelum Prasasti Kedukan Bukit yang baru ditemukan pada 29 November 1920, dan Prasasti Talang Tuo yang ditemukan beberapa hari sebelumnya iaitu pada 17 November 1920.
Prasasti Kota Kapur ini, beserta penemuan-penemuan arkeologi lainnya di daerah tersebut, merupakan peninggalan masa Sriwijaya dan membuka wawasan baru tentang masa-masa Hindu-Budha di masa itu. Prasasti ini juga membuka gambaran tentang corak masyarakat yang hidup pada abad ke-6 dan abad ke-7 dengan latar belakang agama Hindu dan Buddha.
Prasasti Talang Tuwo
Prasasti Talang Tuwo ditemukan oleh Louis Constant Westenenk (residen Palembang kontemporer) pada tanggal 17 November 1920 di kaki Bukit Seguntang, dan dikenal sebagai peninggalan Kerajaan Sriwijaya.
Keadaan fizikalnya masih baik dengan bidang datar yang ditulisi berukuran 50cm × 80 cm. Prasasti ini berangka tahun 606 Saka (23 Maret 684 Masehi), ditulis dalam aksara Pallawa, berbahasa Melayu Kuno, dan terdiri dari 14 baris. Sarjana pertama yang berhasil membaca dan mengalihaksarakan prasasti tersebut adalah van Ronkel dan Bosch, yang dimuat dalam Acta Orientalia. Sejak tahun 1920 prasasti tersebut disimpan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, dengan nomor D.145.
Isi prasasti
Berikut adalah tulisan yang terdapat pada Prasasti Talang Tuwo:
Svasti
cri cakavarsatita 606 dim dvitiya cuklapaksa vulan caitra
sana tatkalana parlak Criksetra ini
niparvuat parvan dapunta hyang Cri Yayanaca (-ga) ini pranidhanan dapunta hyang savanakna yang nitanam di sini niyur pinang hanau rumviya dngan samicrana yang kayu nimakan vuahna tathapi haur vuluh pattung ityevamadi punarapi yang varlak verkan dngan savad tlaga savanakna yang vualtku sucarita paravis prayojanakan punyana sarvvasatva sacaracara varopayana tmu sukha di asannakala di antara margga lai
tmu muah ya ahara dngan air niminumna savanakna vuatna huma parlak mancak muah ya manghidupi pacu prakara marhulun tuvi vrddhi muah ya jangam ya niknai savanakna yang upasargga pidana svapnavighna
varang vuatana kathamapi anukula yang graha naksatra pravis diya Nirvyadhi ajara kavuatanana
tathapi savanakna yam khrtyana satyarjjava drdhabhakti muah ya dya yang mitrana tuvi janan ya kapata yang vivina mulang anukala bharyya muah ya varamsthanana lagi curi ucca vadhana paradara di sana punarapi tmu ya kalyanamitra marvvangun vodhicitta dngan maitridhari di dang hyang ratnaraya jangan marsarak dngan dang hyang ratnaraya. tathapi nityakala tyaga marcila ksanti marvvangun viryya rajin tahu di samicrana cilpakala paravis samahitacinta tmu ya prajna smrti medhavi punarapi dhairyyamani mahasattva vajracarira
anubamacakti jaya tathapi jatismara avikalendriya mancak rupa subjaga hasin halap ade yavakya vrahmasvara jadi laki svayambtu puna (ra) pi tmu ya cintamaninidhana tmu janmavacita. karmmavacita clecavacita avasana tmu ya anuttarabhisamyaksam vodhi
Alih bahasa
Berikut ini adalah isi dan terjemahan prasasti tersebut, sebagaimana diterjemahkan oleh George Cœdès.
“ Pada tanggal 23 Maret 684 Masehi, pada saat itulah taman ini yang dinamakan Śrīksetra dibuat di bawah pimpinan Sri Baginda Śrī Jayanāśa. Inilah niat baginda: Semoga yang ditanam di sini, pohon kelapa, pinang, aren, sagu, dan bermacam-macam pohon, buahnya dapat dimakan, demikian pula bambu aur, waluh, dan pattum, dan sebagainya; dan semoga juga tanaman-tanaman lainnya dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolamnya, dan semua amal yang saya berikan, dapat digunakan untuk kebaikan semua makhluk, yang dapat pindah tempat dan yang tidak, dan bagi mereka menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan kebahagiaan. Jika mereka lapar waktu beristirahat atau dalam perjalanan, semoga mereka menemukan makanan serta air minum. Semoga semua kebun yang mereka buka menjadi berlebih (panennya). Semoga suburlah ternak bermacam jenis yang mereka pelihara, dan juga budak-budak milik mereka. Semoga mereka tidak terkena malapetaka, tidak tersiksa karena tidak boleh tidur. Apa pun yang mereka perbuat, semoga semua planet dan bintang menguntungkan mereka, dan semoga mereka terhindar dari penyakit dan ketuaan selama menjalankan usaha mereka. Dan juga semoga semua hamba mereka setia pada mereka dan berbakti, lagipula semoga teman-teman mereka tidak mengkhianati mereka dan semoga isteri mereka menjadi isteri yang setia. Lebih-lebih lagi, di mana pun mereka berada, semoga di tempat itu tidak ada pencuri, atau orang yang mempergunakan kekerasan, atau pembunuh, atau penzinah. Selain itu, semoga mereka mempunyai seorang kawan sebagai penasihat baik; semoga dalam diri mereka lahir fikiran Boddhi dan persahabatan (...) dari Tiga Ratna, dan semoga mereka tidak terpisah dari Tiga Ratna itu. Dan juga semoga senantiasa (mereka bersikap) murah hati, taat pada peraturan, dan sabar; semoga dalam diri mereka terbit tenaga, kerajinan, pengetahuan akan semua kesenian berbagai jenis; semoga semangat mereka terpusatkan, mereka memiliki pengetahuan, ingatan, kecerdasan. Lagi pula semoga mereka teguh pendapatnya, bertubuh intan seperti para mahāsattwa berkekuatan tiada bertara, berjaya, dan juga ingat akan kehidupan-kehidupan mereka sebelumnya, berindra lengkap, berbentuk penuh, berbahagia, bersenyum, tenang, bersuara yang menyenangkan, suara Brahmā. Semoga mereka dilahirkan sebagai laki-laki, dan keberadaannya berkat mereka sendiri; semoga mereka menjadi wadah Batu Ajaib, mempunyai kekuasaan atas kelahiran-kelahiran, kekuasaan atas karma, kekuasaan atas noda, dan semoga akhirnya mereka mendapatkan Penerangan sempurna lagi agung. ”
Kosa kata Melayu kuno
Berikut adalah beberapa kosa kata bahasa Melayu kuna yang disebutkan dalam prasasti ini dan hingga kini masih dapat ditemukan dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia modern. Dapat ditemukan banyak persamaan dan sedikit perubahan, antara lain awalan di- dahulu adalah ni-, awalan me- dahulu adalah mar- atau ma-, sedangkan akhiran -nya dahulu adalah -na.
vulan = bulan
tatkalana = tatkalanya
nivarbuat = diperbuat
savanakna = sebanyaknya
nitanam = ditanam
niyur = nyiur
hanau = enau
rumvia = rumbia
dngan = dengan
nimakan = dimakan
vuahna = buahnya
tathapi = tetapi
haur = aur
vuluh = buluh
pattung = betung
tlaga = telaga
punyana = punyanya
tmu = temu, bertemu
margga = marga
sukha = suka
niminumna = diminumnya
savanakna = sebanyaknya, sebanyak-banyaknya
vuatna = buatnya
manghidupi = menghidupi
prakara = perkara
varang = barang
vuatana = buatannya
marvvangun = membangun
Berikut ini adalah isi dan terjemahan prasasti tersebut, sebagaimana diterjemahkan oleh George Cœdès.
“ Pada tanggal 23 Maret 684 Masehi, pada saat itulah taman ini yang dinamakan Śrīksetra dibuat di bawah pimpinan Sri Baginda Śrī Jayanāśa. Inilah niat baginda: Semoga yang ditanam di sini, pohon kelapa, pinang, aren, sagu, dan bermacam-macam pohon, buahnya dapat dimakan, demikian pula bambu aur, waluh, dan pattum, dan sebagainya; dan semoga juga tanaman-tanaman lainnya dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolamnya, dan semua amal yang saya berikan, dapat digunakan untuk kebaikan semua makhluk, yang dapat pindah tempat dan yang tidak, dan bagi mereka menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan kebahagiaan. Jika mereka lapar waktu beristirahat atau dalam perjalanan, semoga mereka menemukan makanan serta air minum. Semoga semua kebun yang mereka buka menjadi berlebih (panennya). Semoga suburlah ternak bermacam jenis yang mereka pelihara, dan juga budak-budak milik mereka. Semoga mereka tidak terkena malapetaka, tidak tersiksa karena tidak boleh tidur. Apa pun yang mereka perbuat, semoga semua planet dan bintang menguntungkan mereka, dan semoga mereka terhindar dari penyakit dan ketuaan selama menjalankan usaha mereka. Dan juga semoga semua hamba mereka setia pada mereka dan berbakti, lagipula semoga teman-teman mereka tidak mengkhianati mereka dan semoga isteri mereka menjadi isteri yang setia. Lebih-lebih lagi, di mana pun mereka berada, semoga di tempat itu tidak ada pencuri, atau orang yang mempergunakan kekerasan, atau pembunuh, atau penzinah. Selain itu, semoga mereka mempunyai seorang kawan sebagai penasihat baik; semoga dalam diri mereka lahir fikiran Boddhi dan persahabatan (...) dari Tiga Ratna, dan semoga mereka tidak terpisah dari Tiga Ratna itu. Dan juga semoga senantiasa (mereka bersikap) murah hati, taat pada peraturan, dan sabar; semoga dalam diri mereka terbit tenaga, kerajinan, pengetahuan akan semua kesenian berbagai jenis; semoga semangat mereka terpusatkan, mereka memiliki pengetahuan, ingatan, kecerdasan. Lagi pula semoga mereka teguh pendapatnya, bertubuh intan seperti para mahāsattwa berkekuatan tiada bertara, berjaya, dan juga ingat akan kehidupan-kehidupan mereka sebelumnya, berindra lengkap, berbentuk penuh, berbahagia, bersenyum, tenang, bersuara yang menyenangkan, suara Brahmā. Semoga mereka dilahirkan sebagai laki-laki, dan keberadaannya berkat mereka sendiri; semoga mereka menjadi wadah Batu Ajaib, mempunyai kekuasaan atas kelahiran-kelahiran, kekuasaan atas karma, kekuasaan atas noda, dan semoga akhirnya mereka mendapatkan Penerangan sempurna lagi agung. ”
Kosa kata Melayu kuno
Berikut adalah beberapa kosa kata bahasa Melayu kuna yang disebutkan dalam prasasti ini dan hingga kini masih dapat ditemukan dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia modern. Dapat ditemukan banyak persamaan dan sedikit perubahan, antara lain awalan di- dahulu adalah ni-, awalan me- dahulu adalah mar- atau ma-, sedangkan akhiran -nya dahulu adalah -na.
vulan = bulan
tatkalana = tatkalanya
nivarbuat = diperbuat
savanakna = sebanyaknya
nitanam = ditanam
niyur = nyiur
hanau = enau
rumvia = rumbia
dngan = dengan
nimakan = dimakan
vuahna = buahnya
tathapi = tetapi
haur = aur
vuluh = buluh
pattung = betung
tlaga = telaga
punyana = punyanya
tmu = temu, bertemu
margga = marga
sukha = suka
niminumna = diminumnya
savanakna = sebanyaknya, sebanyak-banyaknya
vuatna = buatnya
manghidupi = menghidupi
prakara = perkara
varang = barang
vuatana = buatannya
marvvangun = membangun
Prasasti Kedukan Bukit
svasti śrī śakavaŕşātīta 605 (604 ?) ekādaśī śu
klapakşa vulan vaiśākha dapunta hiya<m> nāyik di
sāmvau mangalap siddhayātra di saptamī śuklapakşa
vulan jyeşţha dapunta hiya<m> maŕlapas dari minānga
tāmvan mamāva yamvala dualakşa dangan ko-(sa)
duaratus cāra di sāmvau dangan jālan sarivu
tlurātus sapulu dua vañakña dātamdi mata jap
sukhacitta di pañcamī śuklapakşa vula<n>...
laghu mudita dātam marvuat vanua...
śrīvijaya jaya siddhayātra subhikşa...
klapakşa vulan vaiśākha dapunta hiya<m> nāyik di
sāmvau mangalap siddhayātra di saptamī śuklapakşa
vulan jyeşţha dapunta hiya<m> maŕlapas dari minānga
tāmvan mamāva yamvala dualakşa dangan ko-(sa)
duaratus cāra di sāmvau dangan jālan sarivu
tlurātus sapulu dua vañakña dātamdi mata jap
sukhacitta di pañcamī śuklapakşa vula<n>...
laghu mudita dātam marvuat vanua...
śrīvijaya jaya siddhayātra subhikşa...
Selamat ! Tahun Śaka telah lewat 604, pada hari ke sebelas
paro-terang bulan Waiśakha Dapunta Hiyang naik di
sampan mengambil siddhayātra. di hari ke tujuh paro-terang
bulan Jyestha Dapunta Hiyang berlepas dari Minanga
tambahan membawa bala tentara dua laksa dengan perbekalan
dua ratus cara (peti) di sampan dengan berjalan seribu
tiga ratus dua belas banyaknya datang di mata jap (Mukha Upang)
sukacita. di hari ke lima paro-terang bulan....(Asada)
lega gembira datang membuat wanua....
Śrīwijaya jaya, siddhayātra sempurna....
paro-terang bulan Waiśakha Dapunta Hiyang naik di
sampan mengambil siddhayātra. di hari ke tujuh paro-terang
bulan Jyestha Dapunta Hiyang berlepas dari Minanga
tambahan membawa bala tentara dua laksa dengan perbekalan
dua ratus cara (peti) di sampan dengan berjalan seribu
tiga ratus dua belas banyaknya datang di mata jap (Mukha Upang)
sukacita. di hari ke lima paro-terang bulan....(Asada)
lega gembira datang membuat wanua....
Śrīwijaya jaya, siddhayātra sempurna....
Keterangan
Pada baris ke-8 terdapat unsur pertanggalan. Namun bahagian akhir unsur pertanggalan pada prasasti ini telah hilang. Seharusnya bahagian itu diisi dengan nama bulan. Berdasarkan data dari Fragmen D.161 yang ditemukan di Situs Telaga Batu, J.G. de Casparis (1956:11-15) dan Boechari (1993: A1-1-4) mengisinya dengan nama bulan Āsāda. Maka lengkaplah pertanggalan prasasti tersebut, iaitu hari kelima paro-terang bulan Āsāda yang bertepatan dengan tanggal 16 Jun 682 Masehi.[2]
Menurut George Cœdès, Siddhayatra berarti semacam “ramuan bertuah” (potion magique). Tetapi kata ini boleh juga diterjemahkan lain, iaitu menurut kamus Jawa Kuno Zoetmulder(1995): “selamat dalam perjalanan”. Dengan ini kalimat di atas ini boleh diubah: “Sri Baginda naik sampan untuk melakukan penyerangan, selamat dalam perjalanannya.”
Dari prasasti Kedukan Bukit, didapatkan data-data sebagai berikut[3]:
Dapunta Hyang naik perahu tanggal 11 Waisaka 604 (23 April 682)
Dapunta Hyang berangkat dari Minanga tanggal 7 Jesta (19 Mei) dengan membawa lebih dari 20.000 balatentara. Rombongan lalu tiba di Muka Upang.
Dapunta Hyang membuat ‘wanua’ tanggal 5 Asada (16 Juni)
Selanjutnya kata Minanga yang terdapat pada prasasti ini masih menjadi perbincangan para sejarahwan. Ada yang berpendapat Dapunta Hyang berangkat dari Minanga dan menaklukan kawasan tempat ditemukannya prasasti ini.[4] Ada juga berpendapat Minanga tidak sama dengan Malayu, kedua kawasan itu ditaklukan oleh Dapunta Hyang, dimana penaklukan Malayu terjadi sebelum menaklukan Minanga dengan menganggap isi prasasti ini menceritakan penaklukan Minanga.[5] Kemudian ada yang berpendapat Minanga berubah tutur menjadi Binanga, sebuah kawasan yang terdapat pada sehiliran Sungai Barumun (wilayah Sumatera Utara sekarang).[6]
Prasasti Kedukan Bukit ditemukan oleh M. Batenburg pada 29 November 1920 di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir,Palembang, Sumatra Selatan, di tepi Sungai Tatang yang mengalir ke Sungai Musi. Prasasti ini berbentuk batu kecil berukuran 45 × 80 cm, ditulis dalam aksara Pallawa, menggunakan bahasa Melayu Kuno. Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional Indonesia dengan nomor D.146.
Pada baris ke-8 terdapat unsur pertanggalan. Namun bahagian akhir unsur pertanggalan pada prasasti ini telah hilang. Seharusnya bahagian itu diisi dengan nama bulan. Berdasarkan data dari Fragmen D.161 yang ditemukan di Situs Telaga Batu, J.G. de Casparis (1956:11-15) dan Boechari (1993: A1-1-4) mengisinya dengan nama bulan Āsāda. Maka lengkaplah pertanggalan prasasti tersebut, iaitu hari kelima paro-terang bulan Āsāda yang bertepatan dengan tanggal 16 Jun 682 Masehi.[2]
Menurut George Cœdès, Siddhayatra berarti semacam “ramuan bertuah” (potion magique). Tetapi kata ini boleh juga diterjemahkan lain, iaitu menurut kamus Jawa Kuno Zoetmulder(1995): “selamat dalam perjalanan”. Dengan ini kalimat di atas ini boleh diubah: “Sri Baginda naik sampan untuk melakukan penyerangan, selamat dalam perjalanannya.”
Dari prasasti Kedukan Bukit, didapatkan data-data sebagai berikut[3]:
Dapunta Hyang naik perahu tanggal 11 Waisaka 604 (23 April 682)
Dapunta Hyang berangkat dari Minanga tanggal 7 Jesta (19 Mei) dengan membawa lebih dari 20.000 balatentara. Rombongan lalu tiba di Muka Upang.
Dapunta Hyang membuat ‘wanua’ tanggal 5 Asada (16 Juni)
Selanjutnya kata Minanga yang terdapat pada prasasti ini masih menjadi perbincangan para sejarahwan. Ada yang berpendapat Dapunta Hyang berangkat dari Minanga dan menaklukan kawasan tempat ditemukannya prasasti ini.[4] Ada juga berpendapat Minanga tidak sama dengan Malayu, kedua kawasan itu ditaklukan oleh Dapunta Hyang, dimana penaklukan Malayu terjadi sebelum menaklukan Minanga dengan menganggap isi prasasti ini menceritakan penaklukan Minanga.[5] Kemudian ada yang berpendapat Minanga berubah tutur menjadi Binanga, sebuah kawasan yang terdapat pada sehiliran Sungai Barumun (wilayah Sumatera Utara sekarang).[6]
Prasasti Kedukan Bukit ditemukan oleh M. Batenburg pada 29 November 1920 di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir,Palembang, Sumatra Selatan, di tepi Sungai Tatang yang mengalir ke Sungai Musi. Prasasti ini berbentuk batu kecil berukuran 45 × 80 cm, ditulis dalam aksara Pallawa, menggunakan bahasa Melayu Kuno. Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional Indonesia dengan nomor D.146.
Referensi
^ The Encyclopedia of Malaysia: Languages and Literature, Volume 9 / edited by Prof. Dato' Dr. Asmah Haji Omar
^ Casparis, J.G. de, (1956), Prasasti Indonesia II: Selected Inscriptions from the 7th to the 9th Century A.D., Dinas Purbakala Republik Indonesia, Bandung: Masa Baru.
^ Damais, Louis-Charles, (1952), Etude d’Epigraphie Indonesienne III: Liste des Principales Datees de l’Indonesie, BEFEO, tome 46.
^ Soekmono, R., (2002), Pengantar sejarah kebudayaan Indonesia 2, Kanisius, ISBN 979-413-290-X
^ Irfan, N.K.S., (1983), Kerajaan Sriwijaya: pusat pemerintahan dan perkembangannya, Girimukti Pasaka
^ Muljana, Slamet, (2006), Sriwijaya, PT. LKiS Pelangi Aksara, ISBN 978-979-8451-62-1
^ The Encyclopedia of Malaysia: Languages and Literature, Volume 9 / edited by Prof. Dato' Dr. Asmah Haji Omar
^ Casparis, J.G. de, (1956), Prasasti Indonesia II: Selected Inscriptions from the 7th to the 9th Century A.D., Dinas Purbakala Republik Indonesia, Bandung: Masa Baru.
^ Damais, Louis-Charles, (1952), Etude d’Epigraphie Indonesienne III: Liste des Principales Datees de l’Indonesie, BEFEO, tome 46.
^ Soekmono, R., (2002), Pengantar sejarah kebudayaan Indonesia 2, Kanisius, ISBN 979-413-290-X
^ Irfan, N.K.S., (1983), Kerajaan Sriwijaya: pusat pemerintahan dan perkembangannya, Girimukti Pasaka
^ Muljana, Slamet, (2006), Sriwijaya, PT. LKiS Pelangi Aksara, ISBN 978-979-8451-62-1
Prasasti Sojomerto
Sembah kepada Siwa Bhatara Paramecwara dan semua dewa-dewa... dari yang mulia Dapunta Selendra Santanu adalah nama bapaknya, Bhadrawati adalah nama ibunya, Sampula adalah nama bininya dari yang mulia Selendra.
Bahan prasasti ini adalah batu andesit dengan panjang 43 cm, tebal 7 cm, dan tinggi 78 cm. Tulisannya terdiri dari 11 baris yang sebagian barisnya rusak terkikis usia.
Prasasti Sojomerto merupakan peninggalan Wangsa Sailendra (sekitar abad ke-7) yang ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban,Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Prasasti ini beraksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuno.
Prasasti ini bersifat keagamaan Siwais. Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh utamanya, Dapunta Selendra, iaitu ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. Prof. Drs. Boechari berpendapat bahwa tokoh yang bernama Dapunta Selendra adalah bakal-bakal raja-raja keturunan Wangsa Sailendra yang berkuasa di Kerajaan Mataram Hindu.
Bahan prasasti ini adalah batu andesit dengan panjang 43 cm, tebal 7 cm, dan tinggi 78 cm. Tulisannya terdiri dari 11 baris yang sebagian barisnya rusak terkikis usia.
Prasasti Sojomerto merupakan peninggalan Wangsa Sailendra (sekitar abad ke-7) yang ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban,Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Prasasti ini beraksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuno.
Prasasti ini bersifat keagamaan Siwais. Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh utamanya, Dapunta Selendra, iaitu ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. Prof. Drs. Boechari berpendapat bahwa tokoh yang bernama Dapunta Selendra adalah bakal-bakal raja-raja keturunan Wangsa Sailendra yang berkuasa di Kerajaan Mataram Hindu.
Prasasti Singapura
Prasasti Singapura merujuk kepada suatu prasasti yang dijumpai ketika Sir Stamford Raffles membuka Singapura. Penemuan prasasti tersebut terdapat di dalam karya Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Prasasti tersebut berbentuk empat segi, selebar sedepa (1,7 meter) dan mempunyai tulisan yang dipahat. Prasasti tersebut dijumpai di ujung tanjung semasa pembukaan Singapura, Semasa Bonham menjadi gabenor Singapura, Pulau Pinang dan Melaka, seorang pegawai Inggeris bernama Coleman telah memecahkan batu tersebut.
Beberapa usaha untuk mengenali jenis tulisan telah dilakukan pada ketika itu, tetapi tidak berjaya. Malah salinan tulisan tersebut telah dihantar ke London untuk mengenali asal tulisan tersebut tetapi masih gagal. Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi sendiri menyatakan bahawa kelihatannya tulisan itu seperti abjad Arab, tetapi akhirnya telah disimpulkan oleh Raffles sebagai abjad Hindi (Sansekerta) mengingat usia prasasti tersebut yang begitu lama.
Yang amat menarik bagi Prasasti Singapura ini adalah terdapat cerita yang selari mengenai prasasti ini yang terdapat di dalam Sulalatus Salatin. Di dalam karya tersebut telah dinyatakan dengan jelas mengenai seorang raja yang bergelar Raja Suran yang telah menakluk seluruh Tanah Melayu sampai ke Temasik. Di Temasik beliau telah membuat suatu peti kaca dan masuk ke laut. Setelah itu, Raja Suran, dikatakan telah mendirikan suatu prasasti yang menceritakan segala kisah penaklukannya, termasuk peristiwa baginda masuk ke dalam laut dalam bahasa Hindustan.
Ternyata prasasti ini mempunyai persamaan dengan prasasti Singapura, berdasarkan fakta berikut:-
Kedua prasasti tersebut didirikan di Tumasik (Singapura).
Kedua prasasti tersebut dibuat dekat laut. Prasasti Singapura dijumpai di ujung tanjung, sementara prasasti Raja Suran Batu dibuat untuk memperingati kisah baginda masuk ke laut, pastinya dibuat dekat kawasan pantai, dan bukannya di kawasan berbukit.
Keduanya ditulis menggunakan abjad Hindustani.(Menurut pendapat Raffles).
Keduanya dibuat pada zaman lampau. (Sukar dipercayai terdapat dua prasasti dibuat dalam tempo yang dekat di tempat yang sama (Temasik) mengingat prasasti amat jarang dijumpai.)
Hanya raja yang berkuasa saja mempunyai pengaruh dan kuasa untuk mendirikan prasasti. Tidak terdapat catatan mengenai raja yang kuat yang terdapat di Singapura selain rekod di dalam Sulalatus Salatin mengenai raja Suran.
Beberapa usaha untuk mengenali jenis tulisan telah dilakukan pada ketika itu, tetapi tidak berjaya. Malah salinan tulisan tersebut telah dihantar ke London untuk mengenali asal tulisan tersebut tetapi masih gagal. Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi sendiri menyatakan bahawa kelihatannya tulisan itu seperti abjad Arab, tetapi akhirnya telah disimpulkan oleh Raffles sebagai abjad Hindi (Sansekerta) mengingat usia prasasti tersebut yang begitu lama.
Yang amat menarik bagi Prasasti Singapura ini adalah terdapat cerita yang selari mengenai prasasti ini yang terdapat di dalam Sulalatus Salatin. Di dalam karya tersebut telah dinyatakan dengan jelas mengenai seorang raja yang bergelar Raja Suran yang telah menakluk seluruh Tanah Melayu sampai ke Temasik. Di Temasik beliau telah membuat suatu peti kaca dan masuk ke laut. Setelah itu, Raja Suran, dikatakan telah mendirikan suatu prasasti yang menceritakan segala kisah penaklukannya, termasuk peristiwa baginda masuk ke dalam laut dalam bahasa Hindustan.
Ternyata prasasti ini mempunyai persamaan dengan prasasti Singapura, berdasarkan fakta berikut:-
Kedua prasasti tersebut didirikan di Tumasik (Singapura).
Kedua prasasti tersebut dibuat dekat laut. Prasasti Singapura dijumpai di ujung tanjung, sementara prasasti Raja Suran Batu dibuat untuk memperingati kisah baginda masuk ke laut, pastinya dibuat dekat kawasan pantai, dan bukannya di kawasan berbukit.
Keduanya ditulis menggunakan abjad Hindustani.(Menurut pendapat Raffles).
Keduanya dibuat pada zaman lampau. (Sukar dipercayai terdapat dua prasasti dibuat dalam tempo yang dekat di tempat yang sama (Temasik) mengingat prasasti amat jarang dijumpai.)
Hanya raja yang berkuasa saja mempunyai pengaruh dan kuasa untuk mendirikan prasasti. Tidak terdapat catatan mengenai raja yang kuat yang terdapat di Singapura selain rekod di dalam Sulalatus Salatin mengenai raja Suran.
Prasasti Dong Yen Chau,Vietnam
Prasasti Dong Yen Chau,Vietnam
"Siddham! Ni yan Naga pun putauv, ya uran spuy di ko, kurun ko jmay labuh nari svarggah, ya uran peribhu di ko, kurun saribu tahun ko davam di naraka, dnan tijuh kulo ko"
Perhatikan beberapa perkataan Melayu purba yang masih digunakan sehingga ke hari ini:
uran=orang
yan=yang
pun=pun
kurun=kurun
saribu=seribu
tahun=tahun
davam=diam
di=di
naraka=neraka
dnan=dengan
tijuh=tujuh
ni=ini
Prasasti ini berusia kira-kira abad ke-4 Masehi dan merupakan prasasti yang paling tua dalam sejarah Indochina.
Prasasti Palas Pasemah
Prasasti Palas Pasemah, prasasti pada batu, ditemukan di Palas Pasemah, di tepi Way (Sungai) Pisang, Lampung. Ditulis dengan aksara Pallawa dan bahasaMelayu Kuna sebanyak 13 baris. Meskipun tidak berangka tahun, namun dari bentuk aksaranya diperkirakan prasasti itu berasal dari akhir abad ke-7 Masehi. Isinya mengenai kutukan bagi orang-orang yang tidak tunduk kepada Sriwijaya.
Prasasti Kayumwungan
Prasasti Kayumwungan adalah sebuah prasasti pada lima buah penggalan batu yang ditemukan di Dusun Karangtengah, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, sehingga lebih dikenal juga dengan nama prasasti Karangtengah. Prasasti ini ditulis dengan aksara Jawa Kuna, mempergunakan dua bahasa. Baris 1-24 ditulis dalam bahasa Sansekerta, baris selanjutnya ditulis bahasa Jawa Kuno. Masing-masing bahasa menunjuk pada angka tahun 746 Saka atau 824 Masehi.
Isi
Isi tulisan bagian Sansekerta adalah tentang seorang raja bernama Samaratungga. Anaknya bernama Pramodawardhani mendirikan bangunan suci Jinalaya yang bernama Wenuwana untuk menempatkan abu jenazah 'raja mega', sebutan untuk Dewa Indra. Mungkin yang dimaksud adalah raja Indra dari keluarga Sailendra.
Bagian Jawa Kuno menyebutkan bahwa pada 10 Kresnapaksa bulan Jyestha tahun 746 Saka atau 824 Masehi, Rakai Patapan pu Palar meresmikan tanah sawah di Kayumwungan menjadi perdikan (daerah bebas pajak).
Isi tulisan bagian Sansekerta adalah tentang seorang raja bernama Samaratungga. Anaknya bernama Pramodawardhani mendirikan bangunan suci Jinalaya yang bernama Wenuwana untuk menempatkan abu jenazah 'raja mega', sebutan untuk Dewa Indra. Mungkin yang dimaksud adalah raja Indra dari keluarga Sailendra.
Bagian Jawa Kuno menyebutkan bahwa pada 10 Kresnapaksa bulan Jyestha tahun 746 Saka atau 824 Masehi, Rakai Patapan pu Palar meresmikan tanah sawah di Kayumwungan menjadi perdikan (daerah bebas pajak).
Lihat pula
Prasasti Canggal (732)
Prasasti Kalasan (778)
Prasasti Kelurak (782)
Prasasti Tri Tepusan (842)
Prasasti Canggal (732)
Prasasti Kalasan (778)
Prasasti Kelurak (782)
Prasasti Tri Tepusan (842)
Prasasti Gandasuli
Prasasti Gandasuli merupakan prasasti peninggalan Kerajaan Mataram Kuna ketika dikuasai oleh Wangsa Syailendra. Prasasti ini ditemukan di reruntuhan Candi Gondosuli, di DesaGondosuli, Kecamatan Bulu, Temanggung, Jawa Tengah. Yang mengeluarkan adalah anak raja (pangeran) bernama Rakai Rakarayan Patapan Pu Palar, yang juga adik ipar raja Mataram,Rakai Garung.
Prasasti Gandasuli terdiri dari dua keping, disebut Gandasuli I (Dang pu Hwang Glis) dan Gandasuli II (Sanghyang Wintang). Ia ditulis menggunakan bahasa Melayu Kuna dengan aksara Kawi (Jawa Kuna), berangka tahun 792M. Teks prasasti Gandasuli II terdiri dari lima baris dan berisi tentang filsafat dan ungkapan kemerdekaan serta kejayaan Syailendra.
Prasasti Gandasuli terdiri dari dua keping, disebut Gandasuli I (Dang pu Hwang Glis) dan Gandasuli II (Sanghyang Wintang). Ia ditulis menggunakan bahasa Melayu Kuna dengan aksara Kawi (Jawa Kuna), berangka tahun 792M. Teks prasasti Gandasuli II terdiri dari lima baris dan berisi tentang filsafat dan ungkapan kemerdekaan serta kejayaan Syailendra.
Keping Tembaga Laguna
Keping Tembaga Laguna (900 M), sebuah pelat tembaga tipis berukuran kurang dari 8 × 12 inci (20 × 30 cm) dengan tulisan kecil yang telah ditempa ke permukaannya. Ini menunjukkan pengaruh budaya India melalui Sriwijaya yang terdapat di Filipina sebelum era penjajahan Spanyol di abad ke-16.
Prasasti Keping Tembaga Laguna atau Lempeng Tembaga Laguna ditemukan 1989 di Laguna de Bay, Manila,Filipina. Penanggalan yang tertera menunjukkan tahun 822 Saka, atau 21 April, 900. Prasasti ini menggunakan bahasa Melayu Kuno meskipun banyak kata-kata dari bahasa Sansekerta, bahasa Jawa Kuno, dan bahasa Tagalog Kuno, serta ditulis dengan aksara Kawi.
Pembuatan
Gulungan tembaga ini agak berbeda pembuatannya apabila dibandingkan dengan gulungan tembaga dari Jawa semasanya. Huruf-huruf pada keping Laguna ditatah pada kepingnya langsung, sedangkan di Jawa ditulis pada keping yang dipanaskan dan menjadi lembut.
Isi
Isi prasasti ini mengenai pernyataan pembebasan hutang emas terhadap seseorang bernama Namwaran. Di dalamnya juga menyebutkan sejumlah nama tempat di sekitar Filipina (Tondo, Pila, dan Pulilan), serta menyebut nama "Mdan" (kemungkinan besar Kerajaan Medang di Jawa), serta beberapa tempat yang masih belum dipastikan seperti Dewata. Prasasti ini menjadi petunjuk mengenai adanya pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Pulau Luzon pada awal abad ke-10. Sekarang dokumen ini tersimpan di Museum Nasional Filipina.
Alihaksara
Swasti Shaka warsatita 822 Waisaka masa di(ng) jyotisa. Caturthi Krisnapaksa somawara sana tatkala Dayang Angkatan lawan dengan nya sanak barngaran si Bukah anak da dang Hwan Namwaran dibari waradana wi shuddhapattra ulih sang pamegat senapati di Tundun barja(di) dang Hwan Nayaka tuhan Pailah Jayadewa.
Di krama dang Hwan Namwaran dengan dang kayastha shuddha nu diparlappas hutang da walenda Kati 1 Suwarna 8 di hadapan dang Huwan Nayaka tuhan Puliran Kasumuran.
dang Hwan Nayaka tuhan Pailah barjadi ganashakti. Dang Hwan Nayaka tuhan Binwangan barjadi bishruta tathapi sadana sanak kapawaris ulih sang pamegat dewata [ba]rjadi sang pamegat Medang dari bhaktinda diparhulun sang pamegat.
Ya makanya sadanya anak cucu dang Hwan Namwaran shuddha ya kapawaris dihutang da dang Hwan Namwaran di sang pamegat 'Dewata.
Ini grang syat syapanta ha pashkat ding ari kamudyan ada grang urang barujara welung lappas hutang da dang Hwa ...
Terjemahan bebas
Swasti. Tahun Saka 822, bulan Waisakha, menurut penanggalan. Hari keempat setelah bulan mati, Senin. Di saat ini, Dayang Angkatan, dan saudaranya yang bernama si Bukah, anak-anak dari Sang Tuan Namwaran, diberikan sebuah dokumen pengampunan penuh dari Sang Pemegang Pimpinan di Tundun (Tondo sekarang), diwakili oleh Sang Tuan Nayaka dari Pailah (Pila sekarang), Jayadewa.
Atas perintahnya, secara tertulis, Sang Tuan Namwaran telah dimaafkan sepenuhnya dan dibebaskan dari hutang-hutangnya sebanyak satu Katî dan delapan Suwarna di hadapan Sang Tuan Puliran Kasumuran di bawah petunjuk dari Sang Tuan Nayaka di Pailah.
Oleh karena kesetiaannya dalam berbakti, Sang Tuan (Yang Terhormat) yang termasyhur dari Binwangan mengakui semua kerabat Namwaran yang masih hidup, yang telah diklaim oleh Sang Penguasa Dewata, yang diwakili oleh Sang Penguasa Medang.
Ya, oleh sebab itu seluruh anak cucu Sang Tuan Namwaran sudah dimaafkan dari segala hutang Sang Tuan Namwaran kepada Sang penguasa Dewata.
(Pernyataan) ini, dengan demikian, menjelaskan kepada siapa pun setelahnya, bahwa jika di masa depan ada orang yang mengatakan belum bebas hutangnya Sang Tuan ...
Prasasti Hujung Langit
Prasasti Hujung Langit, yang dikenal juga dengan nama Prasasti Bawang, adalah sebuah prasasti batu yang ditemukan di desa Haur Kuning, Lampung, Indonesia. Aksara yang digunakan di prasasti ini adalah Pallawa dengan bahasa Melayu Kuno Tulisan pada prasasti ini sudah sangat haus, namun masih teridentifikasi angka tahunnya 919 Saka atau 997 Masehi. Isi prasasti diperkirakan merupakan pemberian tanah sima.
Prasasti Terengganu
Prasasti Terengganu adalah prasasti tertua yang tertulis dalam huruf Jawi (gundul). Prasasti Terengganu ditemukan di Terengganu, Semenanjung Malaysia pada awal abad ke 20. Prasasti ini ditemukan oleh seorang saudagar keturunan Arab yang bernama Sayid Husin bin Ghulam al-Bokhari di sungai Teresat dekat Kuala Berang.
Menurut penduduk setempat, prasasti yang termaktub di atas batu ini, sudah lama terletak di depan sebuah surau atau langgar yang berhampiran tempat mengambil wudhu.
Isi teks yang berbahasa Melayu Klasik ini mengenai undang-undang seorang raja. Sebuah catatan menarik ialah bahwa di sini Tuhan tidak hanya disebut dengan asma Allah tetapi juga Dewata Mulia Raya. Selain itu beberapa kata Sansekerta masih dieja menurut kaedah fonetik bahasa ini, seperti kata bhumi.
Alih Aksara
Sisi A:

Rasul Allah dengan yang orang …. bagi mereka ……..
ada pada Dewata Mulia Raya beri hamba meneguhkan agama Islam
dengan benar bicara darma meraksa bagi sekalian hamba Dewata Mulia Raya di benuaku ini penentu agama Rasul Allah salla’llahu ‘alaihi wa sallama Raja mandalika yang benar bicara sebelah Dewata Mulia Raya di dalam bhumi. Penentua itu fardlu pada sekalian Raja mandalika Islam menurut setitah Dewata Mulia Raya dengan benar bicara berbajiki benua penentua itu maka titah Seri Paduka Tuhan mendudukkan tamra ini di benua Terengganu adipertama ada Jum’at di bulan Rejab di tahun sarathan di sasanakala Baginda Rasul Allah telah lalu tujuh ratus dua…
Menurut penduduk setempat, prasasti yang termaktub di atas batu ini, sudah lama terletak di depan sebuah surau atau langgar yang berhampiran tempat mengambil wudhu.
Isi teks yang berbahasa Melayu Klasik ini mengenai undang-undang seorang raja. Sebuah catatan menarik ialah bahwa di sini Tuhan tidak hanya disebut dengan asma Allah tetapi juga Dewata Mulia Raya. Selain itu beberapa kata Sansekerta masih dieja menurut kaedah fonetik bahasa ini, seperti kata bhumi.
Alih Aksara
Sisi A:
Rasul Allah dengan yang orang …. bagi mereka ……..
ada pada Dewata Mulia Raya beri hamba meneguhkan agama Islam
dengan benar bicara darma meraksa bagi sekalian hamba Dewata Mulia Raya di benuaku ini penentu agama Rasul Allah salla’llahu ‘alaihi wa sallama Raja mandalika yang benar bicara sebelah Dewata Mulia Raya di dalam bhumi. Penentua itu fardlu pada sekalian Raja mandalika Islam menurut setitah Dewata Mulia Raya dengan benar bicara berbajiki benua penentua itu maka titah Seri Paduka Tuhan mendudukkan tamra ini di benua Terengganu adipertama ada Jum’at di bulan Rejab di tahun sarathan di sasanakala Baginda Rasul Allah telah lalu tujuh ratus dua…
Sisi B:

keluarga di benua Jawa (jauh ?) ........kan......ul
datang berikan. Keempat darma barang orang berpihutang
jangan mengambil k......(a)mbil hilangkan emas
kelima darma barang orang ……………(mer)deka
jangan mengambil tugal buat ........t emasnya
jika ia ambil hilangkan emas. Keenam darma barang
orang berbuat balacara laki-laki perempuan setitah
Dewata Mulia Raya jika merdeka bujan palu
seratus rautan. Jika merdeka beristri
atawa perempuan bersuami ditanam hinggan
pinggang dihembalang dengan batu matikan
jika ingkar balacara hembalang jika anak mandalika
keluarga di benua Jawa (jauh ?) ........kan......ul
datang berikan. Keempat darma barang orang berpihutang
jangan mengambil k......(a)mbil hilangkan emas
kelima darma barang orang ……………(mer)deka
jangan mengambil tugal buat ........t emasnya
jika ia ambil hilangkan emas. Keenam darma barang
orang berbuat balacara laki-laki perempuan setitah
Dewata Mulia Raya jika merdeka bujan palu
seratus rautan. Jika merdeka beristri
atawa perempuan bersuami ditanam hinggan
pinggang dihembalang dengan batu matikan
jika ingkar balacara hembalang jika anak mandalika
Sisi C

bujan dandanya sepuluh tengah tiga jika ia ..........
menteri bujan dandanya tujuh tahil sepaha………
tengah tiga. Jika tetua bujan dandanya lima ta(hil……
tujuh tahil sepaha masuk bendara. Jika o(rang……
merdeka. Ketujuh darma barang perempuan hendak..
tida dapat bersuami jika ia berbuat balacara
bujan dandanya sepuluh tengah tiga jika ia ..........
menteri bujan dandanya tujuh tahil sepaha………
tengah tiga. Jika tetua bujan dandanya lima ta(hil……
tujuh tahil sepaha masuk bendara. Jika o(rang……
merdeka. Ketujuh darma barang perempuan hendak..
tida dapat bersuami jika ia berbuat balacara
Sisi D

……..tida benar dandanya setahil sepaha kesembilan darma
……..Seri Paduka Tuhan siapa tida……dandanya
..........kesepuluh darma jika anakku atawa pemain(ku) atawa cucuku atawa keluargaku atawa anak
……..tamra ini segala isi tamra ini barang siapa tida menurut tamra ini laanat Dewata Mulia Raya
……….dijadikan Dewata Mulia Raya bagi yang langgar acara tamra ini.
……..tida benar dandanya setahil sepaha kesembilan darma
……..Seri Paduka Tuhan siapa tida……dandanya
..........kesepuluh darma jika anakku atawa pemain(ku) atawa cucuku atawa keluargaku atawa anak
……..tamra ini segala isi tamra ini barang siapa tida menurut tamra ini laanat Dewata Mulia Raya
……….dijadikan Dewata Mulia Raya bagi yang langgar acara tamra ini.
Beberapa ketidakjelasan
Tarikh prasasti ini agak problematis sebab bilangan tahun ini ditulis, tidak dengan angka. Di sini hanya bisa terbaca tujuh ratus dua: 702H. Tetapi kata dua ini bisa diikuti dengan kata lain; (20-29) atau -lapan -> dualapan -> "delapan". Kata ini boleh pula diikuti dengan kata "sembilan". Dengan ini kemungkinan tarikh ini menjadi banyak: (702, 720 - 729, atau 780 - 789 H). Tetapi karena prasasti ini juga menyebut bahwa tahun ini adalah "Tahun Kepiting" (saratan) maka hanya ada dua kemungkinan yang tersisa: iaitu tahun 1326M atau 1386M.
Tarikh prasasti ini agak problematis sebab bilangan tahun ini ditulis, tidak dengan angka. Di sini hanya bisa terbaca tujuh ratus dua: 702H. Tetapi kata dua ini bisa diikuti dengan kata lain; (20-29) atau -lapan -> dualapan -> "delapan". Kata ini boleh pula diikuti dengan kata "sembilan". Dengan ini kemungkinan tarikh ini menjadi banyak: (702, 720 - 729, atau 780 - 789 H). Tetapi karena prasasti ini juga menyebut bahwa tahun ini adalah "Tahun Kepiting" (saratan) maka hanya ada dua kemungkinan yang tersisa: iaitu tahun 1326M atau 1386M.
Sumber bacaan
H.S. Paterson (& C.O. Blagden), 'An early Malay Inscription from 14th-century Trengganu', Journ. Mal. Br.R.A.S., II, 1924, pp. 258-263.
R.O. Winstedt, A History of Malaya, revised ed. 1962, p. 40.
J.G. de Casparis, Indonesian Paleography, 1975, p. 70-71.
H.S. Paterson (& C.O. Blagden), 'An early Malay Inscription from 14th-century Trengganu', Journ. Mal. Br.R.A.S., II, 1924, pp. 258-263.
R.O. Winstedt, A History of Malaya, revised ed. 1962, p. 40.
J.G. de Casparis, Indonesian Paleography, 1975, p. 70-71.
Prasasti Minyetujoh
Prasasti Minyetujoh adalah sebuah prasasti (batu bertulis) yang dipahat pada batu nisan yang ditemukan di Minyetujoh, Aceh. Prasasti ini ditulis dengan huruf Arab-Melayu dan Jawa Kuno, berbahasa Melayu Klasik, dalam bentuk syair sarga upajati. Isinya adalah tentang meninggalnya seseorang bernama Raja Iman Werda Rahmat-Allah pada tahun 1379 Masehi (781 H).
Terjemahan bebas
Setelah hijrah Nabi, kekasih yang telah wafat
Tujuh ratus delapan puluh satu tahun
Bulan Dzulhijjah empat belas hari, hari Jumat
Raja Iman rahmat Allah bagi Baginda (warda)
Dari keluarga Barubasa mempunyai hak atas Kedah dan Pasai
Menaruk di laut dan darat semesta (semua)
Ya Ilahi Tuhanku semesta
Masukkanlah Baginda ke dalam surga Tuhan
Referensi
Fauziah, M.A., Keberadaan Aksara Arab Dalam Sastra Melayu
Alihaksara
hijrat nabi mungstapa yang prasaddha
tujuh ratus asta puluh savarssa
hajji catur dan dasa vara sukra
raja iman varda rahmatallah
gutra barubasa mpu hak kedak pasema
taruk tasih tanah samuha
ilahi ya rabbi tuhan samuha
taruh dalam svargga tuhan tatuha
hijrat nabi mungstapa yang prasaddha
tujuh ratus asta puluh savarssa
hajji catur dan dasa vara sukra
raja iman varda rahmatallah
gutra barubasa mpu hak kedak pasema
taruk tasih tanah samuha
ilahi ya rabbi tuhan samuha
taruh dalam svargga tuhan tatuha
Terjemahan bebas
Setelah hijrah Nabi, kekasih yang telah wafat
Tujuh ratus delapan puluh satu tahun
Bulan Dzulhijjah empat belas hari, hari Jumat
Raja Iman rahmat Allah bagi Baginda (warda)
Dari keluarga Barubasa mempunyai hak atas Kedah dan Pasai
Menaruk di laut dan darat semesta (semua)
Ya Ilahi Tuhanku semesta
Masukkanlah Baginda ke dalam surga Tuhan
Referensi
Fauziah, M.A., Keberadaan Aksara Arab Dalam Sastra Melayu
Subscribe to:
Posts (Atom)

